Imah, Anak Tertua

"Mah, Imah bangun. Mandi, mandiin adik-adikmu. Udah siang. Cepet". Terdengar suara seseorang tengah menyebut sepenggal nama, bermaksud membangunkan seseorang yang tidur dengan lelapnya setelah seharian lelah bekerja. Ya, Imah, itulah namaku. Dan seseorang yang telah membangunkanku adalah, Emak.

"Hmm hmm", jawabku pada Emak sembari mengusap kelopak mata dan mengosok muka karena banyak kotoran yang menempel.

Tak lama kemudian, pandanganku serasa silau, semacam ada seseorang yang sengaja membukakan pintu kamar agar cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.

Rumah berbentuk balok dengan ukuran yang kami anggap 'cukup' untuk tidur 8 anggota keluarga. Sekejap setelah itu, kulangsungkan untuk bangun, memandikan para adik lalu bersiap-siap untuk bekerja.

Jangan heran, sedari kecil aku sudah diajarkan untuk bekerja. Rumangsa aku bukanlah anak dari orang yang berada, aku harus mau kedebag-kedebug sendiri untuk membiayai hidup. Sedang adikku ada banyak sekali, dan bapak meninggalkan kami saat aku berusia 11 tahun. Tentu, usia adik-adikku masih sangat belia.

Pekerjaanku turut membantu usaha tahu kuning Emak. Walaupun penghasilannya tidak terlalu besar, itu sudah lebih dari cukup. Walau jujur, uang itu hanya bisa kami gesar-geser untuk keperluan pribadi keluarga. Tapi tak apalah. Setidaknya kami dapat makan walau hanya dengan nasi sisa yang dikeringkan atau yang kami sebut dengan 'loyang'.

"Hari ini Emak lagi banyak uang. Jadi Emak siapkan loyang untuk makan hari ini." Ujar Emak dengan nada gembira pada anak-anaknya yang diiringi dengan sorakan kegembiraan dari para adik yang masih polos.

Emak memang pandai sekali menyembunyikan perasaannya. Sebetulnya, dagangan tahu Emak pagi tadi sedang sepi pembeli. Tapi kata Emak, walaupun uang kita sedikit, jangan pernah katakan begitu. Katakan saja uang kita sedang banyak.

Secara tidak langsung, kami berdoa agar kami selalu berkecukupan. Selalu muncul senyum simpul yang manis dari Emak tatkala melihat 7 anaknya dapat makan dengan lahap. Sebagai anak tertuapun aku merasa ikut andil dalam tugas ini.

Dalam benakku, aku tak apa begini dan cukup aku saja yang begini, adik-adikku jangan.

Saat ini, cucuku tengah menulis secuil kisah tentang diriku. Walaupun ada banyak yang disimpangkan, tapi tak apalah, Cu. Semoga cucuku ini bisa selalu belajar untuk menulis.

Cerita ini bisa dibaca di : Imah, Anak Tertua